Kredit Karbon untuk Hutan Aceh

The Jakarta Post,Jumat, 20 Agustus, 2010 11:38 AM Oleh Hotli Simanjuntak

Persepsi umum tentang Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD) – sebuah istilah yang pengucapannya saja sudah sulit – hanya sebagai salah satu dari banyak program PBB yang saat ini telah dilaksanakan di negara-negara lain.
Namun, setelah melakukan penerbangan dengan ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut melewati hutan Aceh, telah membantu saya untuk memahami inisiatif tersebut.
Penerbangan selama 45 menit ini – waktu yang dibutuhkan dalam penerbangan dari Bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh ke Bandara Alas Leuser, Aceh Tenggara – memperlihatkan bentangan hutan tropis yang hijau dan lebat sejauh mata memandang.
Jutaan pohon-pohon raksasa yang tumbuh di 1200 – 2000 meter di atas permukaan laut berdiri tegak di bawah sana, menantang selimut awan yang yang bergerak perlahan ke arah gunung.
“Pemandangan ini sangat spektakuler. Saya tidak pernah melihat hutan yang sedemikian lebatnya di negara saya,” kata Dan Schoof, Deputi Sekretaris Negara Bagian Wisconsin – AS, selama penerbangan yang dilakukan untuk mendapatkan bird eye view hutan Aceh ini.
Dan Schoof mewakili AS pada Governor’s Climate and Forest Meeting yang diadakan di Banda Aceh.
Pertemuan delegasi negara-negara yang memiliki hutan ini diadakan untuk mendiskusikan standar dan mekanisme yang akan digunakan dalam perdagangan karbon dibawah Program REDD.
Menurut situs PBB, program REDD adalah “upaya untuk menciptakan insentif bagi negara-negara yang masih memiliki wilayah hutan yang baik, untuk melindungi, mengatur dengan baik, dan menggunakan dengan bijak sumber daya hutannya, yang pada akhirnya ikut berkontribusi terhadap upaya global penanggulangan perubahan iklim.”
Inisiatif ini berupaya untuk menciptakan nilai finansial bagi karbon yang tersimpan pada hutan yang masih ada. Untuk jangka panjangnya, pembayaran bagi pengurangan dan penyerapan emisi yang telah diverifikasi, akan memberikan insentif kepada negara-negara REDD untuk dapat berinvestasi lebih jauh kepada pembangunan yang rendah karbon, sehat, dan hijau di kemudian hari.
Dengan kata lain, REDD adalah sebuah sistem yang membuat negara-negara “kaya” mengimbangi emisi karbonnya dengan membayar kepada negara-negara ”miskin” untuk menjaga hutan mereka, karena hutan menyimpan sejumlah besar karbon di dalam pohon-pohon dan tanahnya.
Aceh, salah satu provinsi Indonesia yang memiliki hutan, menjadikan hutan Ulu Masen sebagai pilot project untuk perdagangan karbon. Dalam dunia usaha, Ulu Masen dikenal sebagai proyek REDD pertama di dunia yang didanai secara komersial, dimana Bank of America Merril Lynch telah membeli kredit karbon dari areal hutan lindung seluas 7,690 km2.
Hutan Ulu Masen terletak di bagian utara provinsi, meliputi area yang luasnya sebanding dengan 12 kali luas Jakarta.
Sekitar 2 juta manusia di 5 kabupaten sangat tergantung kepada air bersih dari hutan Ulu Masen. Hutan ini memiliki 17 sungai besar dan kecil yang menyokong pemenuhan kebutuhan air bersih kepada ekosistem sekitarnya. Hutan ini juga merupakan habitat bagi beberapa spesies satwa yang terancam punah, seperti harimau, gajah, badak sumatra dan orangutan.
Saat ini pemerintah Aceh sedang dalam proses penghitungan potensi hutan Ulu Masen sebagai penyerap karbon, dengan menggunakan standar dari Departemen Kehutanan.
“Langkah awalnya adalah mengukur diameter pohon. Kemudian kami akan menentukan area cakupan kanopi dari pohon-pohon yang kami ukur” kata Susilo, staff Flora and Fauna International, salah satu LSM lingkungan internasional yang telah berada di Aceh cukup lama, dan sedang melakukan proyek pengukuran potensi hutan dalam menyerap karbon dioksida.
“Dapat anda bayangkan berapa banyak uang yang dihasilkan untuk Aceh bila hutannya terjaga dengan baik?” kata Susilo. Selain itu, Hutan Ulu Masen dan Ekosistem Leuser di Aceh merupakan hutan yang luas dengan keanekaragaman hayati yang signifikan. Terletak di tengah-tengah Aceh hingga provinsi Sumatra Utara.
Menurut legenda yang berkembang di suku Gayo, yang hidup di sekitar hutan, Leuser adalah tempat peristirahatan abadi bagi binatang. Leusoh artinya “selubung di dalam awan”.
Di masa lalu, area Leuser menjadi pusat perhatian dunia karena keanekaragaman hayatinya yang melimpah, dan merupakan surga bagi peneliti dalam melakukan penelitian tentang aspek-aspek alam. Lebih dari 1,8 juta hektar menjadi kediaman ekosistem yang beragam.
Salah satu topik penelitian adalah mengenai orangutan, yang hanya hidup di hutan Sumatra dan Kalimantan.
Selain orangutan, Leuser juga merupakan rumah bagi ribuan binatang lain, termasuk beberapa spesies yang terancam punah, seperti burung rangkong, harimau sumatra, badak sumatra, kupu-kupu dan banyak spesies lainnya.
“Saat ini, ekosistem Leuser juga sedang dipersiapkan menjadi salah satu proyek perdagangan karbon. Tapi kami masih perlu waktu” kata Mike Griffiths, Koordinator Konservasi dan Rehabilitasi Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL).
Menurutnya, proyek REDD dapat membantu untuk menghentikan deforestasi yang cepat di hutan Aceh saat ini. Dengan proyek REDD, masyarakat diharapkan dapat termotivasi untuk ikut menjaga hutan di sekitar mereka.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi proyek REDD ini adalah masalah penebangan dan penambangan liar yang merajalela yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok tertentu.
Banyak wilayah hutan, yang dulunya hijau dan terjaga baik berubah menjadi perkebunan, seperti perkebunan kelapa sawit, atau ditebang untuk keperluan penambangan sumber daya alam Indonesia.
Bila pemerintah tidak menghentikan terhadap penebangan dan penambangan liar ini segera, hanya proyek REDD yang akan menentang keadaan ini.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyatakan komitmennya untuk melakukan jeda tebang selama 2 tahun dalam acara konferensi pers bersama PM Norwegia Jens Stoltenberg, setelah acara penandatanganan kesepakatan senilai USD 1 milyar antara Indonesia dan Norwegia di Oslo. Program ini bertujuan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.
Bila isu deforestasi tidak diatasi, Hutan Aceh akan terus ditebang dan tidak akan mampu lagi menjadi benteng yang menangkal bencana alam dan kepunahan spesies satwa-satwa langka.
Saat ini, hutan yang masih relatif lebat dan baik kondisinya hanya terdapat di Indonesia dan Brazil.

0 komentar:

Posting Komentar

http://sudut-korupsi.blogspot.com