Kutacane - Ekosistem Leuser masih didiami oleh sekitar 6.000 Orangutan, yang tersebar di seluruh wilayah ekosistem dengan luas sekitar 2,6 juta hektare, di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Hal tersebut disampaikan oleh Rudi H Putra, Manager Konservasi Badan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), Ahad (23/05), saat Tempo mengunjungi Pusat Penelitian Ketambe, Aceh Tenggara yang merupakan salah satu kawasan Hutan Lindung Leuser. Tempat itu terletak sekitar 30 kilometer dari dari Kutacane, Ibukota Aceh Tenggara. Menurutnya, komunitas Orangutan terus menurun. Hewan yang dilindungi tersebut banyak yang diburu untuk dijual sebagai hewan piaraan.
Di sekitar Pusat Penelitian Ketambe yang dikelola BPKEL, Orangutan yang terdeteksi sekitar 50 ekor. Mereka semuanya telah mempunyai nama yang dibubuhkan oleh para staf BPKEL maupun peneliti. “Mereka satu sama lain punya perbedaan seperti manusia, semua yang ada di sekitar sini telah kita beri nama,” ujarnya.
Kata Rudi, Orangutan mempunyai wilayah sendiri-sendiri seperti layaknya perkampungan manusia. Jarang mereka berpindah selama wilayahnya masih aman. Kerap mereka terlihat saat pagi maupun sore ketika sedang mencari makan. Rudi berharap, semua pihak dapat menjaga kelestarian hewan langka itu. “Karena hewan itu salah satu kebanggaan kawasan ekosistem Leuser, banyak peneliti yang datang dari berbagai negara untuk melihat keberadaan mereka,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, para delegasi Governors Climate and Forest (GCF) Taskforce Meeting yang telah mengikuti pertemuan di Banda Aceh, juga berkesempatan mengunjungi kawasan ekosistem Leuser di Ketambe, Aceh tenggara selama dua hari. “Mereka diajak untuk masuk ke hutan melihat ekosistem di dalamnya dan melihat Orangutan,”kata Kepala BPKEL, Fauzan Azima.
Para delegasi gubernur dunia yang berasal dari Brazil, Amerika Serikat, Nigeria meninggalkan Aceh Tenggara, hari ini. Sebagian dari mereka kembali ke negaranya masing-masing. Sebagian lagi kembali ke Banda Aceh untuk mempersiapkan kepulangan ke negaranya.


0 komentar:
Posting Komentar